Kembali

Wisata Religi Paguyuban Dukun Bayi Puskesmas Kaliangkrik



Senin, 19 Januari 2026 – Dalam rangka memperkuat sinergi serta pembinaan berkelanjutan terhadap mitra kesehatan di masyarakat, Puskesmas Kaliangkrik kembali menyelenggarakan kegiatan Selapanan Paguyuban Dukun Bayi. Pada kesempatan kali ini, kegiatan dikemas secara khusus melalui agenda ziarah makam aulia ke Makam KH Dalhar dan Makam KH Ahmad Abdul Haaq yang terletak di kawasan religius Watucongol. Kegiatan ini diikuti oleh 18 dukun bayi dari berbagai desa di wilayah kerja Puskesmas Kaliangkrik serta didampingi oleh 6 tenaga kesehatan Puskesmas Kaliangkrik.

Kegiatan selapanan merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap 35 hari sekali sebagai wadah silaturahmi, pembinaan, serta penguatan peran dukun bayi dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak. Melalui kegiatan ini, Puskesmas Kaliangkrik berupaya membangun hubungan yang harmonis antara tenaga kesehatan dan dukun bayi sebagai mitra strategis di masyarakat, mengingat peran dukun bayi masih sangat dekat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Pemilihan agenda ziarah makam aulia memiliki makna yang mendalam, tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh agama yang telah berjasa besar dalam penyebaran ilmu dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan peningkatan spiritualitas bagi seluruh peserta. KH Dalhar dan KH Ahmad Abdul Haaq dikenal sebagai ulama besar yang memiliki kontribusi penting dalam membangun peradaban keagamaan dan sosial masyarakat Magelang dan sekitarnya. Dengan berziarah ke makam beliau, para peserta diajak untuk meneladani nilai keikhlasan, pengabdian, serta semangat pelayanan kepada umat.

Selama rangkaian kegiatan, para dukun bayi dan tenaga kesehatan mengikuti doa bersama dengan penuh kekhusyukan. Suasana ziarah berlangsung khidmat dan sarat makna, menjadi momentum untuk memohon keberkahan, keselamatan, serta kelancaran dalam menjalankan tugas pengabdian di bidang kesehatan. Diharapkan melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh ketenangan batin dan semangat baru dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta bayi dan balita.

Selain sebagai kegiatan spiritual, selapanan paguyuban ini juga dimanfaatkan sebagai ajang komunikasi dan diskusi antara dukun bayi dan tenaga kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, tenaga kesehatan Puskesmas Kaliangkrik menyampaikan pentingnya kolaborasi yang erat dalam mendampingi ibu hamil dan proses persalinan, serta mengajak para dukun bayi untuk terus berperan aktif dalam mendukung program-program kesehatan pemerintah. Sinergi ini dinilai sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mempercepat pencapaian indikator kesehatan ibu dan anak.

Puskesmas Kaliangkrik menegaskan bahwa keterlibatan dukun bayi sebagai mitra kesehatan merupakan salah satu strategi pendekatan budaya yang efektif, mengingat dukun bayi memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat. Dengan membangun hubungan yang saling menghargai dan berbasis kepercayaan, diharapkan pesan-pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan lebih baik dan diterima oleh masyarakat secara luas.

Melalui kegiatan Selapanan Paguyuban Dukun Bayi ini, Puskesmas Kaliangkrik berharap kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap program kesehatan semakin meningkat, khususnya dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB) di wilayah Kecamatan Kaliangkrik. Dengan kerja sama yang solid antara dukun bayi, tenaga kesehatan, serta dukungan masyarakat, tujuan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi dapat terwujud secara optimal.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Puskesmas Kaliangkrik dalam mengedepankan pendekatan kolaboratif, spiritual, dan kultural dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Ke depan, Puskesmas Kaliangkrik akan terus mengembangkan berbagai inovasi dan kegiatan pembinaan serupa sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat Kaliangkrik yang sehat, mandiri, dan berdaya.

Â